Pantau Banten – Kekayaan budaya masyarakat adat Kabupaten Lebak kembali mendapat ruang di panggung nasional. Seren Taun Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, kembali ditetapkan sebagai salah satu agenda dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Tradisi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun tersebut dijadwalkan berlangsung pada 21 hingga 28 September 2026. Masuknya Seren Taun Cisungsang ke dalam kalender event nasional menjadi momentum strategis bagi Kabupaten Lebak untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi pariwisata daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Yosep M. Holis, menyampaikan apresiasinya terhadap masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang yang hingga kini tetap konsisten menjaga tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal.
Menurut Yosep, masuknya Seren Taun ke dalam KEN 2026 merupakan bentuk penghargaan terhadap keberadaan tradisi adat yang memiliki nilai budaya kuat sekaligus berpotensi menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Lebak.
“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada event Seren Taun Cisungsang yang kembali masuk kalender KEN 2026 dari Kementerian Pariwisata RI,” ujar Yosep kepada wartawan di Rangkasbitung, Senin (31/8/2026).
Lebih dari sekadar agenda tahunan, Seren Taun bagi masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang memiliki makna yang jauh lebih dalam. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang berkaitan erat dengan pertanian, alam, serta tata kehidupan adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Seren Taun menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen sekaligus memanjatkan doa dan harapan dalam menyambut musim tanam berikutnya.
Nilai-nilai kearifan lokal juga tercermin dalam cara masyarakat adat memperlakukan hasil panen padi. Masyarakat Cisungsang tidak menjadikan padi hasil panen sebagai komoditas yang diperjualbelikan secara bebas.
Sebagai gantinya, hasil panen dapat dimanfaatkan melalui mekanisme barter dengan hasil bumi maupun kebutuhan tertentu. Tradisi tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat adat mempertahankan nilai kemakmuran sekaligus menjaga keberlangsungan kehidupan dan keseimbangan dengan lingkungan.
“Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi agar kemakmuran tidak hilang dari lumbung mereka,” kata Yosep.
Dengan kembali masuknya Seren Taun Cisungsang dalam KEN 2026, tradisi masyarakat adat Lebak tidak hanya menjadi warisan budaya yang dipertahankan di tingkat lokal, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk dikenal lebih luas sebagai identitas budaya sekaligus kekuatan pariwisata Kabupaten Lebak.
Kehadiran Seren Taun di panggung nasional sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkenalkan potensi daerah tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi jati diri masyarakat adat. (*/Red)