Oleh: Aji Rosyad, Ketua JMSI Lebak, Ketua Umum FWS, Pendiri Relawan Pembela Masyarakat (RPM), dan Adam Buya Sujana Karis Ketua Umum GWSBB.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, masyarakat dihadapkan pada perubahan yang begitu cepat. Informasi bergerak dalam hitungan detik, gagasan dapat tersebar tanpa batas, dan setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan maupun aspirasinya.
Namun, kemajuan teknologi seharusnya tidak hanya membuat kita semakin mudah berbicara. Lebih dari itu, era digital harus mampu mendorong kita untuk semakin banyak berbuat, bersatu, dan menciptakan kebermanfaatan nyata bagi sesama.
Menurut saya, salah satu kekuatan yang dapat menjadi wadah untuk mewujudkan hal tersebut adalah organisasi.
Organisasi bukan sekadar tempat berkumpul. Organisasi adalah ruang untuk menyatukan pikiran, menyelaraskan langkah, membangun solidaritas, serta mengubah gagasan menjadi gerakan yang memiliki arah dan tujuan.
Ketika individu bergerak sendiri, mungkin kekuatannya terbatas. Tetapi ketika banyak orang menyatukan visi, kemampuan, pengalaman, dan kepedulian, maka sesuatu yang sebelumnya hanya menjadi mimpi dapat didorong menjadi sebuah kenyataan.
Karena itu, berorganisasi seharusnya tidak dimaknai sebagai upaya mencari posisi, popularitas, ataupun kepentingan pribadi. Organisasi harus menjadi tempat tumbuhnya ide, kepedulian, keberanian, tanggung jawab, dan pengabdian.
Di era digital seperti sekarang, tantangan terbesar bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana mengolah informasi tersebut menjadi gagasan yang produktif.
Jangan sampai energi masyarakat habis hanya untuk perdebatan di ruang digital, saling menyalahkan, menyebarkan prasangka, atau membangun opini tanpa solusi. Kita harus mulai mengubah kebiasaan tersebut menjadi energi positif untuk melahirkan gerakan yang memberikan manfaat.
Bersatu bukan berarti harus memiliki pemikiran yang sama dalam segala hal. Bersatu berarti mampu menyatukan perbedaan untuk tujuan yang lebih besar.
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Justru dari perbedaan itulah gagasan dapat berkembang. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk saling menjatuhkan, tetapi menjadi kekuatan untuk mencari jalan keluar.
Saya percaya, masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu membangun kebersamaan.
Dari kebersamaan lahir solidaritas. Dari solidaritas lahir kepedulian. Dari kepedulian lahir gerakan. Dan dari gerakan yang terorganisasi dengan baik, akan lahir perubahan.
Maka, organisasi harus berani keluar dari pola lama yang hanya sibuk pada struktur dan atribut. Organisasi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dengan program yang konkret.
Tidak cukup hanya berbicara tentang kesejahteraan. Kita harus memikirkan bagaimana mendorong masyarakat agar memiliki akses terhadap pendidikan, kesehatan, ekonomi, pekerjaan, informasi, serta ruang untuk menyampaikan aspirasi secara bermartabat.
Tidak cukup hanya mengkritik pemerintah. Kritik harus disertai gagasan dan solusi.
Tidak cukup hanya mengeluhkan keadaan. Kita harus mulai bertanya, apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan tersebut?
Di sinilah pentingnya membangun organisasi yang memiliki visi kebermanfaatan.
Organisasi harus menjadi rumah bersama bagi siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya. Anak muda, mahasiswa, masyarakat sipil, komunitas, media, aktivis, maupun elemen masyarakat lainnya dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Saya meyakini, setiap orang memiliki potensi untuk memberikan manfaat.
Ada yang memiliki kemampuan dalam bidang komunikasi. Ada yang memahami persoalan hukum. Ada yang bergerak di bidang sosial. Ada yang memiliki kemampuan mengembangkan ekonomi.
Ada pula yang memiliki gagasan besar tetapi membutuhkan ruang dan teman seperjuangan untuk mewujudkannya.
Jika seluruh potensi tersebut dipertemukan dalam satu semangat kebersamaan, maka kekuatan yang lahir akan jauh lebih besar.
Mimpi tidak akan menjadi kenyataan hanya karena terus dibicarakan. Mimpi membutuhkan keberanian untuk memulai, ketekunan untuk menjalankan, dan kebersamaan untuk mempertahankannya.
Adam Buya Karis: Jangan Pernah Berhenti Bergerak untuk Mereka yang Lemah
Semangat kebermanfaatan tersebut juga ditegaskan Ketua Umum Gerakan Warga Sipil Banten Bersatu (GWSBB), Adam Buya Karis.
Menurut Adam, gerakan masyarakat tidak boleh hanya hadir ketika keadaan sedang ramai atau ketika kepentingan tertentu membutuhkan dukungan. Gerakan sipil harus memiliki keberanian untuk hadir di tengah masyarakat, terutama mereka yang lemah, terpinggirkan, dan sering kali tidak memiliki kekuatan untuk menyuarakan kepentingannya sendiri.
“Jangan pernah merasa kecil hanya karena kita berasal dari kalangan yang lemah. Justru dari mereka yang selama ini terpinggirkan, lahir kekuatan perubahan ketika mereka mau bersatu dan bergerak,” tegas Adam.
Ia menilai, persoalan sosial tidak akan selesai hanya dengan keluhan, unggahan di media sosial, ataupun perdebatan panjang. Dibutuhkan kemauan, keberanian, konsistensi, dan organisasi yang mampu mengubah keresahan menjadi gerakan yang terarah.
“Setiap ada kemauan dalam sebuah pergerakan, pasti ada jalan menuju perubahan. Mungkin perubahan itu tidak datang dalam satu malam, tetapi ketika kita terus bergerak, memperjuangkan hak, menyampaikan aspirasi dan mencari solusi, maka perubahan itu akan menemukan jalannya,” ujarnya.
Adam juga mendorong agar masyarakat tidak kehilangan harapan hanya karena berhadapan dengan keterbatasan.
Menurutnya, keberpihakan kepada masyarakat lemah bukan berarti membangun permusuhan dengan pihak lain. Sebaliknya, perjuangan harus dilakukan secara bermartabat, santun, konstitusional, dan berdasarkan kepentingan masyarakat luas.
“Kita tidak boleh membiarkan orang yang lemah berjalan sendirian. Kalau satu orang kesulitan, mungkin suaranya tidak terdengar. Tetapi kalau masyarakat bersatu, menyampaikan persoalan dengan data, fakta dan cara yang benar, maka suara itu akan menjadi kekuatan yang harus diperhatikan,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kebermanfaatan bukan sekadar slogan organisasi. Kebermanfaatan harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Karena itu, saya mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak takut berorganisasi. Jadikan organisasi sebagai ruang belajar, ruang bertukar gagasan, ruang membangun jaringan, sekaligus ruang untuk mengabdi.
Mari kita manfaatkan teknologi digital bukan hanya untuk menjadi penonton perubahan, tetapi menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Gunakan media sosial untuk menyebarkan gagasan yang mencerdaskan. Gunakan jaringan yang kita miliki untuk membuka peluang. Gunakan organisasi untuk menguatkan masyarakat. Dan gunakan keberanian kita untuk memperjuangkan sesuatu yang benar, adil, serta bermanfaat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah organisasi bukan hanya seberapa besar namanya dikenal, berapa banyak anggotanya, atau seberapa sering tampil di ruang publik.
Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah seberapa besar keberadaannya mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Sebab, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang paling banyak berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan organisasi yang kehadirannya mampu dirasakan oleh masyarakat.
Mari kita berhenti mempertentangkan siapa yang paling hebat.
Mari kita mulai bertanya, apa yang bisa kita lakukan bersama?
Mari menyatukan gagasan, memperkuat solidaritas, membangun keberanian, dan mendorong setiap impian menjadi kenyataan.
Sebab pada akhirnya, perubahan tidak lahir dari mereka yang hanya menunggu. Perubahan lahir dari mereka yang berani bersatu, bergerak, dan memperjuangkan kebermanfaatan bagi sesama.